SEJARAH SETIA BUDI SUNGAILIAT

Pada tahun 1957, pemerintah Indonesia memberlakukan kebijakan pendidikan yang memisahkan siswa warga negara Indonesia (WNI) dan warga negara asing (WNA). Kebijakan ini bermula dari peraturan pemerintah yang dikeluarkan oleh Menteri Pertahanan Djuanda pada 6 November 1957. Peraturan tersebut melarang WNI masuk ke sekolah Tiong Hoa dan mewajibkan guru sekolah asing untuk meminta izin kepada Menteri Pendidikan. Akibatnya, sekolah Tiong Hoa (Tjhung Hwa School), yang terletak di Jalan Raya Depati Amir (sekarang Jalan Jenderal Sudirman), dibagi menjadi dua bagian: satu untuk siswa WNA dan satu untuk siswa WNI. Kebijakan ini dianggap sebagai langkah yang menghilangkan kesatuan pendidikan di Indonesia.

harapan dan perjalanan Yayasan Pendidikan Lembaga Nasional Setia Budi. Yayasan ini berharap dapat terus melanjutkan perjalanannya dengan doa dan ikhlas dari para pelaku sejarahnya. Yayasan ini menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan di tengah perbedaan yang ada di masyarakat, khususnya masyarakat pluralis di Indonesia. Dalam konteks ini, disebutkan Fan Ngin Thong Ngin Jit Djong (Tiong Hoa dan Melayu sama saja).

Yayasan Setia Budi telah secara tidak sadar mempromosikan nilai-nilai pluralitas, persaudaraan, dan membangun generasi bangsa yang cerdas dan mandiri. Lembaga ini menyadari pentingnya nilai-nilai tersebut untuk menciptakan perdamaian, khususnya di Pulau Bangka. Lembaga ini berkomitmen untuk mencerdaskan bangsa dan melahirkan generasi muda yang intelektual dan mandiri, sehingga mudah digerakkan dan menjadi sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan zaman. Pemikiran ini akan terus mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan zaman. Pada usia ke-50 tahun, Yayasan Setia Budi akan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

SMA Setia Budi Sungailiat, mulai berdiri tanggal 22 Agustus 1975, dengan melalui perjalanan yang panjang sekarang ini SMA Setia Budi Sungailiat dengan Akreditasi A dapat berdiri dengan kokoh dengan banyak prestasi yang telah di capai, baik oleh sekolah itu sendiri maupun prestasi anak didiknya

SMA Setia Budi pada tahun ini mendapat predikat sebagai sekolah Adiwiyata tingkat nasional, yaitu sekolah yang peduli lingkungan. Predikat itu bukanlah didapatkan dengan mudah tetapi dimulai dengan susah payah dengan merintis sebagai juara sekolah sehat tingkat kabupaten,juara sekolah sehat tingkat propinsi kemudian pada tahun 2010 menjadi sekolah sehat peringkat 10 tingkat nasional.

Wujud nyata kegerakan peduli lingkungan diwujudkan dengan menjaga lingkungan yaang ada di kabupaten Bangka, antara lain dengan melakukan penanaman pohon di gunung maras, pantai air anyir, pantai rebo, melakukan kegiatan kerja bakti dilingkungan pasar, lingkungan sekitar SMA Setia Budi dan sejumlah kegiatan yang lain.



Sekolah menengah atas yang ada di kota Sungailiat ketika tahun 1975 adalah SMA Swasta atau sekolah yang dikenal dengan nama SMA Pak Yan. sebutan pak Yan sangant indentik dengan wakil kepala sekolah yang memimpin ketika itu, sedangkan kepala sekolah SMA itu adalah Ir. Sugiarto seorang pejabat bengkel listrik PN Timah.


Sekolah tersebut menempati gedung Yayasan Pendidikan Lembaga Nasional Setia Budi, tetapi proses KBM dilaksanakan sore sampai malam hari karena yang menjadi staf pengajar atau guru adalah karyawan PN Timah. Hal ini menjadi sebuah permasalahan bagi siswa yang berada diluar kota Sungailiat karena pada masa itu alat transportasi sangat terbatas apalagi kalau pada malam hari.


Hal ini mengetuk hati para prakarsa pendidikan untuk berbuat sesuatu bagi kemajuan pendidikan di kota Sungailiat khususnya dan bagi daerah Bangka pada umumnya. Tetapi hal itu bukanlah sesuatu pekerjaan yang mudah karena pada masa itu belum ada satu sekolah menengah atas yang berstatus negeri di kota Sungailiat kala itu yang ada adalah sekolah swasta seperti sekolah teknik menengah (STM)yang guru dan biaya operasionalnya dibantu PN Timah yang menempati gedung sekolah dilokasi Loek A Thjin, Sekolah Menengah Atas yang berdomisili didekat asrama polisi (dulu disebut tangsi polisi). Semua Proses pembelajaran dilakukan pada waktu sore hari.


Kemudian keluarlah surat keputusan Bupati Daerah TK II Bangka nomor 253/kpts/VI/1975 tentang pendirian Sekolah Menengah Atas (SMA) swasta Yayasan Pendidikan Lembaga Nasional Setia Budi yang ditandatangani oleh Bupati Bangka dengan petikan pengesahan oleh Sekretaris Wilayah Bnagka Drs. Zaini Anwar pada tanggal 22 agustus 1975.


-Chintya Gloria Tanuwihardja : XII.2